Dalam penyuluhan ini, petugas memberikan penjelasan dan pemahaman kepada para pemilik toko terkait larangan produksi rokok tanpa izin, larangan jual beli rokok ilegal, larangan pengumpulan dan/atau jual beli pita cukai bekas pakai. Petugas juga menghimbau kepada para pemilik toko untuk tidak menerima tawaran menjual rokok ilegal dari sales-sales nakal. Selain itu, petugas juga menempelkan stiker "gempur rokok ilegal" dan “toko ini tidak menjual rokok ilegal” sebagai tanda bahwa toko tersebut sudah diberikan penyuluhan oleh Bea Cukai Malang dan bersedia mematuhi ketentuan yang berlaku.

Tujuan dari penyuluhan dan pendampingan ini adalah agar masyarakat termasuk para pemilik toko tahu tentang dampak negatif dari mengonsumsi dan menjual rokok ilegal. Apabila ada pihak yang nekat tetap berjualan rokok ilegal, maka terancam dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit 2 (dua) kali nilai cukai dan paling banyak 10 (sepuluh) kali nilai cukai yang seharusnya dibayar. Hal ini berdasarkan dengan Pasal 54 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai.

Kepala Seksi Penyuluhan dan Layanan Informasi, Surjaningsih, mengatakan bahwa penyuluhan ini bertujuan untuk memutus rantai penyebaran dari penjualan rokok ilegal. “Para pemilik toko yang telah kami beri penyuluhan, merespon dengan antusias. Mereka mendukung agar rokok ilegal terus menerus diberantas sehingga mereka dapat menjual rokok yang legal dengan tenang. Oleh karena itu, di kegiatan Operasi Patuh Cukai ini, kami akan lebih gencar melaksanakan penyuluhan serupa,” terang Surjaningsih.


Kembali ke halaman sebelumnya